Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Indonesia

entah apa judulnya

Terbang ke kedalaman. Curi-curi waktu dari pikiranku yang sok sibuk. Pagi menuju siang, hari ini, sebuah kabar menyentil pendalamanku: “ada T50 jatoh di jogja gans” Kalimat pendek itu disusul dengan tautan-tautan kilas berita. Jemari-jemari gemas yang lain turut meramaikan suasana. Tidak kurang dari lima kelompok media maya sosial jadi gaduh dengan kabar ini. …………………. Sekali lagi, di atas tanah dan air tempatku dilahirkan. Kali ini tentang burung besi yang melesat lebih cepat daripada gemuruhnya: supersonik—hal yang kutekuni beberapa ratus ribu detik terakhir. Supersonik! Hal yang mampu menghabisi nyawa maupun membikin nyawa, ceria, dan cerita yang dikenang berpuluh tahun justru dengan kesekejapannya. Pikiranku melayang menembus awan-awan, (dimana supersonik adalah salah satu kuncinya) kepada orbit-orbit Bumi, kepada bulan, kepada Mars, kepada Tata Surya, kepada bintang-bintang, dan kepada jagat semesta, dimana kekasihku belum had...

Filsafat Negara Kita

Sedikit cuplikan bagian sebuah buku yang menurut saya masih sangat relevan untuk diingat bangsa kita untuk kapan pun, terutama di saat seluruh anak bangsa sedang gandrung menentukan apa yang bijak untuk bangsanya. Sebelum berbicara mengenai "akan" seperti apa negara ini seharusnya lima tahun atau bahkan lima puluh tahun ke depan, tak ada salahnya melirik apa yang "telah" dibicarakan Bapak Bangsa kita lima puluh tahun lalu. Untuk yang sedang gandrung bicara soal Indonesia: dari yang muda sampai yang tua, dari kampus gajah sampai penjuru nusantara. FILSAFAT NEGARA KITA Demikianlah tumbuh berangsur-angsur dalam pangkuan pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan dahulu tjita-tjita demokrasi sosial jang mendjadi dasar bagi pembentukan Negara Republik Indonesia jang merdeka, bersatu, adil dan makmur. Tjita-tjita itu dituangkan didalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sungguhpun tjukup diketahui isinja, ada baiknja dimuat djuga disini isinja jang lengkap menjegar...

Sekali-kali Biarkan Gambar yang Bicara Banyak

Sebulan lebih tak menyentuh halaman ini. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman dan pikiran sehari-hari semenjak terakhir layar laptop saya menampilkan halaman ini--sambil bereksperimen. Kata orang, gambar bicara lebih banyak dari kata-kata. Sedikit cuplikan sudut-sudut sehari-hari dari lensa kamera ponsel kameramen amatir. "Bulan Kesepuluh" 2013 Awal Desember, di depan kost. Kelas Terakhir Si Mbah Sebuah survey mengenai hubungan antara masyarakat, partai politik, dan DPR. Kencan Orang hilang. Di bawah Jembatan Pasupati. Orang hilang. Di bawah Jembatan Pasupati. Indonesia, kapan? Sebuah artikel Kompas. Sebuah artikel Kompas Kajian akhir tahun. Antara Kebun Binatang (kiri) dengan Kebun Binatang (kanan ) Jalan Tamansari. Laboratorium Pribadi Sebuah iklan di koran Kompas. yang dipakai PDB, bukan PNB. Anak SMA "Bulan Kesebelas" 2014 Sebuah artikel Angkasa. Sebuah artikel Angkasa. ...

Semua Bisa Bilang

Malam ini mendengarkan lagu ini saat menyantap makan malam ditemani buku teks tentang kestabilan terbang dan kendali otomatis. Memang bukan untuk pertama kali, namun baru kali ini petikan ukulele dan nyanyian "si abang" saya balas dengan koin aluminum bergambar bunga melati. Di tengah dunia yang makin mudah mengekspresikan"nya" dengan kata-kata yang indah (dan jadinya terkesan murahan) dalam media sosial, dalam momen-momen interpersonal, momen nasional, atau dengan Yang Transedental, lirik lagu ini rasanya pas sekali mewakilkan "yang akan hilang maknanya apabila saya ucapkan di bibir atau tulisan saja". Kalau kau benar benar sayang padaku Kalau kau benar benar cinta Tak perlu kau katakan  Semua itu cukup tingkah laku Sekarang apalah artinya cinta Kalau hanya di bibir saja Cinta itu bukanlah main mainan Tapi pengorbanan

Beberapa Rencana Tulisan dalam Waktu Dekat

Sejenak membuka laman blog saya untuk sekedar mencurahkan isi pikiran yang--mungkin dalam bahasanya Vicky Prasetyo--mulai berombak. Jumlah hari yang telah berlalu sejak tulisan saya terakhir di awal bulan Oktober 2013 (atau di akhir bulan September 2013) sampai hari ini adalah sama dengan jumlah jari di tangan kanan saya ditambah satu. Enam hari bisa jadi merupakan waktu yang cukup lama ataupun terlalu singkat bagi saya. Seperti kata seorang sahabat saya yang kini sedang menjadi "tahanan rumah" di Medan*, saat menjelaskan "teori relativitas waktu".Saya lupa persisnya, tapi kira-kira begini yang saya tangkap tentang teorinya: waktu satu jam itu bisa sangat lama maupun sangat singkat tergantung subjek/individu yang merasakannya. Satu jam itu sangat singkat buat seorang pria yang dapat waktu bercakap-cakap dengan wanita pujaannya setelah lima tahun hanya bisa mengaguminya di balik layar, tapi satu jam itu juga adalah waktu yang sangat lama untuk pria yang sama ketika...