Langsung ke konten utama

Postingan

Estafet Negeri Dongeng

Seorang pemuda duduk di depan lapangan hijau. Tatapannya kosong, tanpa ekspresi, seperti yang biasanya ia lakukan saat sendirian. Pikirannya mengabstraksi manusia-manusia yang berjalan lalu lalang dihadapannya dan manusia-manusia yang pernah ditemuinya. Ia mencoba mencari hal yang sama diantara dirinya dan mereka: intisari dari ide-ide manusia, tentang kebenaran, kebaikan, keadilan, kemerdekaan, Tuhan, dan apapun yang selintas lalu dalam pikirannya. Ia yakin dirinya tidak tahu apa-apa tentang dunia tempat cerita ini dibuat. Ia mungkin sadar kalau dirinya hanyalah seorang tokoh dalam sebuah cerita pendek. Seorang pemudi duduk di depan lapangan hijau. Ia duduk di sebelah seorang pemuda. Sambil sedikit berbasa-basi, pemuda itu memberikannya sebuah surat yang isinya tak kalah basa-basi. Pemudi itu membaca surat ini. . . . . . . . . . . . . . . Selesai membaca surat  yang tidak selesai itu, pemudi tadi sadar kalau pemuda di sebelahnya sudah pergi. ...

Apakah kamu benar-benar tahu semua yang kamu pikir tahu?

Ah, dia pasti marah kalau saya lakukan ini Ah, dia memang bawaannya selalu terlambat. Jangan pernah sekalipun percaya orang itu! Korupsi kan udah budaya dari sananya , mau gimana lagi? Namanya juga cewek, pasti ga terima klo dibegituin. Orang Indonesia, mah, ga mungkin bisa kayak gitu. Kita pasti bisa! Saya rasa saya tidak akan pernah bisa melakukan itu... Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Sadar

"20000 volt" Jam dinding bulat dengan jarum detik berwarna merah di sebelah kanan tulisan tadi. Ruangan enam kali delapan meter Dinding triplek warna hijau. Jendela kaca dan papan tulis di belakang. Rak-rak buku dari kayu berwarna coklat. Aku tutup mata. Desing kipas komputer di sebelah kanan. Suara serangga ternyata lebih keras daripada desing kipas tadi. Lantai yang kududuki terasa dingin. Entah, karena hidung yang sedang tersumbat, atau memang aku tak mencium apa-apa. Semakin sadar Suara mobil dari jarak seratus meter Udara berhembus menggoyangkan rambut hidung, mengisi paru-paru. Lengan kiriku bertumpu pada sebuah meja. Ototnya ditekan gaya reaksi tumpuan meja. Dunia sedang berputar, kuterka itu dari matahari yang tak diam di tempatnya. Suara diri samar-samar terdengar. Kusadari daritadi ia berbicara tak terdengar telinga saat aku menuliskan kata-kata yang ia bisikkan sekarang juga. Diam! Saat ini aku hanya ingin mencoba menyimak, mendengar, memper...

Hari Pendidikan Nasional: Katanya Penting sih, tapi Saya Harus Ngapain dengan Hari Itu?[1]

“Hari itu tidak ada kuliah, pun tidak ada perayaan yang berarti. Hari itu hari Sabtu. Tidak ada upacara bendera yang harus saya ikuti seperti beberapa tahun silam ketika saya masih cebol. Satu hari sebelumnya, seperti tahun-tahun sebelumnya, di Jakarta, kaum buruh berdemo. Hari itu giliran guru honorer, mahasiswa, berdemo. Namun bagi saya, hari itu lalu lewat seperti hari-hari biasanya. Hari itu tanggal 2 Mei 2011.” Hari Pendidikan Nasional? Buat apalah kita menambah satu hari peringatan nasional tanpa tambahan liburan? Pertanyaan itu terbersit di benak saya saat menulis kata-kata yang saat ini sudah tertulis di depan mata Pembaca sekalian, beberapa hari menjelang HarDikNas yang bahkan seringkali tanggalnya tidak ditandai khusus dalam kalender karena angkanya tidak berwarna merah. Iseng membuka Google, saya mengetikkan kata “Hari Pendidikan Nasional” di kotak pencarian. Klik “Enter” “Ki Hajar Dewantara”, muncul di baris teratas hasil pencarian Itulah kena...