Langsung ke konten utama

Postingan

XP, bukan XP

Manusia datang dan pergi Semua yang setia menemani, lari di saat cawan itu dibagi Tulisan ini bisa hilang, berganti Mungkin langgeng, tapi nanti jadi bacaan basi Kepintaran dan kebijaksanaan nanti tinggal kenangan Cita-cita dan angan-angan lain dari kenyataan Semua kuanggap sampah ketika kutemukan gairah Hari-hari tak lagi kuanggap lumrah karena setiap detiknya adalah anugerah Pakai aku, Ambil seluruh kehendak dan kebebasanku harta dan kekuasaanku pikiran dan keelokanku Hanya kehadiran yang menghidupkan yang kuingin jadi milikku

Kasih

Uda penjual lontong sayur yang "kasih" makan pagi ini di pinggir jalan Dago, Kawan yang kasih waktunya buat bebersih sekre hari ini, Ibu yang kasih perhatian lewat sms tadi pagi, Bapak yang kasih tenaganya buat bersih2 perpus jurusan pagi ini, Ibu yang kasih senyum di Jalan Cisitu Baru pagi ini, Babe jual koran yang kasih sapa pagi ini, Ibu kost yang kasih sedia kasur untuk ditiduri malam tadi, Terima-Kasih. Maaf sering tak tau terima kasih, merasa sudah terlalu banyak memberi, terlalu banyak mengorbankan diri, merasa sudah terlalu banyak kontribusi, Aku tak pernah bisa memberi lebih dari apa yang sudah kuterima, tapi ini yang jadi janji, pakailah aku untuk memberi kembali, lewat tugas-tugasku hari ini.

Tukang Duplikat Kunci

Untuk kesekiankalinya selama berkuliah di Bandung, saya kehilangan kunci kost. Untuk kesekian kalinya pula, saya berjalan kaki menuju Jalan Tubagus Ismail, berharap menemui tukang duplikat kunci yang biasanya menjajakan dirinya di samping barisan ibu-ibu penjual sayur. Bapak itu menggunakan jaket dengan tudung terpasang berwarna merah. “Pak, duplikat kunci” Dia berdiri. Wajahnya terlihat lebih antusias daripada saat dia duduk tadi, walau tanpa senyum. Saya serahkan kunci serep yang saya pinjam dari ibu kost. Dia mengambilnya dan mulai menyalakan mesin ajaibnya. Mesin itu memang bukan untuk pertamakalinya saya lihat, namun saya masih menikmati cara kerjanya. Benda itu bekerja seperti mesin pemotong ubin atau gergaji mesin, memahat lekukan-lekukan pada kunci duplikat. Kunci yang mau ditiru dan kunci yang “dipahat” sama-sama dijepit di sebuah jepitan statik.  Gerakan dua kunci tadi selalu sama, meski letaknya selalu berbeda sekitar lima belas senti satu sama...

Malam Rabu

Bukan malam minggu juga malam sabtu Bukan karena haru ataupun malu Hanya ingin menusuk sepimu di tengah waktu yang memburu: Selamat malam kawan-kawanku Semoga dirimu senang selalu Ini salam dari yang merindumu. Kapan-kapan kita bertemu Di Bandung, dengan album baru.

Iseng

Hari itu saya iseng mengirimkan pesan singkat kepada beberapa orang yang saya kenal, isinya kurang lebih seperti ini: “Kamu itu luar biasa” Dan seharian saya tertawa menerima balasan pesan mereka. Nasi uduk pagi hari itu terasa jauh lebih nikmat dari hari sebelumnya.

Tentang Keajaiban

Hari ini menginap lagi di Gedung Tengah Pengadilan Tenggelam. Tidak ada hari yang biasa-biasa saja setiap kali saya sadar bahwa saya ini luar biasa—begitu juga setiap orang yang saya jumpai hari ini, semuanya bisa melakukan hal-hal yang di luar kebiasan. Banyak hal yang luar biasa dan revolusioner ketika kita melihat segala sesuatunya tidak ada yang biasa saja. Bagaimana bisa tidak ada tabrakan yang terjadi di daerah segitiga Dayang Sumbi padahal tidak ada rambu “satu arah”? Bagaimana bisa tidak ada kecelakaan di perempatan Dago, ketika kedua lampu rambu lalu lintas dari arah Dago-BIP dan sebaliknya menyala warna hijau dan ada yang saling memotong jalan? Hidup itu penuh keajaiban ketika kita berhenti menganggap semuanya biasa.