Langsung ke konten utama

Postingan

Satu kembali

Robek-robeklah tubuh ini. Pecahkan dan bagi-bagikanlah. Yang kupunya hanya ini, tapi inipun kuserahkan kalau memang bisa. Biar kami kembali Satu Satu tubuh, banyak bagian Satu pokok, banyak carang Satu pemimpin yang memang menginspirasi, bukan yang banyak kata dan sok aksi

Lugas

Menurut Anda itulah Kebenaran? Simpan basa-basi. Tak boleh kita terlena dalam onani kata berbunga-bunga Tiga hal penting selanjutnya: 1. Perjuangan 2. Perjuangan 3. Perjuangan "Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." -Lukas 12: 47-48

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional: Mahasiswa ITB harusnya ngapain?[1]

Pukul 23.00 tadi malam, telepon selular saya bergetar. “Yud, sekarang lagi di kampus? Ketemuan yuk, pada pengen ngobrol-ngobrol seputar HarKitNas nih,” suara seorang laki-laki di seberang sana. “Oke”, saya menjawab singkat   Memakai sandal warna biru, meninggalkan laptop di sekretariat unit, saya berjalan dari gedung tengah Sunken Court menuju angkringan depan Gerbang Ganesha.Tak sampai 15 menit kemudian, saya sudah mendapati diri saya berada di tengah sanak saudara saya. Harkitnas : Momentum untuk Bangkit Sejak dua minggu yang lalu, saya mulai putar otak mencari pesan apa yang mau disampaikan dalam kesempatan sekali setahun ini. Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama: Sebenarnya apa sih yang kita rayakan saat HarKitNas? Sejenak saya buka komputer saya dan berselancar dalam lautan informasi. “ Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Repu...

XP, bukan XP

Manusia datang dan pergi Semua yang setia menemani, lari di saat cawan itu dibagi Tulisan ini bisa hilang, berganti Mungkin langgeng, tapi nanti jadi bacaan basi Kepintaran dan kebijaksanaan nanti tinggal kenangan Cita-cita dan angan-angan lain dari kenyataan Semua kuanggap sampah ketika kutemukan gairah Hari-hari tak lagi kuanggap lumrah karena setiap detiknya adalah anugerah Pakai aku, Ambil seluruh kehendak dan kebebasanku harta dan kekuasaanku pikiran dan keelokanku Hanya kehadiran yang menghidupkan yang kuingin jadi milikku

Kasih

Uda penjual lontong sayur yang "kasih" makan pagi ini di pinggir jalan Dago, Kawan yang kasih waktunya buat bebersih sekre hari ini, Ibu yang kasih perhatian lewat sms tadi pagi, Bapak yang kasih tenaganya buat bersih2 perpus jurusan pagi ini, Ibu yang kasih senyum di Jalan Cisitu Baru pagi ini, Babe jual koran yang kasih sapa pagi ini, Ibu kost yang kasih sedia kasur untuk ditiduri malam tadi, Terima-Kasih. Maaf sering tak tau terima kasih, merasa sudah terlalu banyak memberi, terlalu banyak mengorbankan diri, merasa sudah terlalu banyak kontribusi, Aku tak pernah bisa memberi lebih dari apa yang sudah kuterima, tapi ini yang jadi janji, pakailah aku untuk memberi kembali, lewat tugas-tugasku hari ini.

Tukang Duplikat Kunci

Untuk kesekiankalinya selama berkuliah di Bandung, saya kehilangan kunci kost. Untuk kesekian kalinya pula, saya berjalan kaki menuju Jalan Tubagus Ismail, berharap menemui tukang duplikat kunci yang biasanya menjajakan dirinya di samping barisan ibu-ibu penjual sayur. Bapak itu menggunakan jaket dengan tudung terpasang berwarna merah. “Pak, duplikat kunci” Dia berdiri. Wajahnya terlihat lebih antusias daripada saat dia duduk tadi, walau tanpa senyum. Saya serahkan kunci serep yang saya pinjam dari ibu kost. Dia mengambilnya dan mulai menyalakan mesin ajaibnya. Mesin itu memang bukan untuk pertamakalinya saya lihat, namun saya masih menikmati cara kerjanya. Benda itu bekerja seperti mesin pemotong ubin atau gergaji mesin, memahat lekukan-lekukan pada kunci duplikat. Kunci yang mau ditiru dan kunci yang “dipahat” sama-sama dijepit di sebuah jepitan statik.  Gerakan dua kunci tadi selalu sama, meski letaknya selalu berbeda sekitar lima belas senti satu sama...