Langsung ke konten utama

Beryukur dan Berjaga

Dalam beberapa puluh hari terakhir, berbeda dari sebelumnya, saya agak lebih sering merasa puas, merasa mencapai sesuatu, entah karena telah menyelesaikan satu presentasi kecil, menyelesaikan sebuah pekerjaan yang tadinya bahkan tidak dimengerti, atau beberapa kemajuan lain dalam pengerjaan tugas. Sebuah ingatan akan pelajaran lain mengingatkan saya untuk juga mewaspadai kepuasan-kepuasan ini dengan cara mengamati pengalaman-pengalaman ini secara lebih seksama: apakah yang saya kerjakan ini semakin mendekatkan saya pada tugas-tugas yang lebih utama? Atau ini hanyalah sebuah pengalihan? 

Rasa puas diri kadang bisa menjadi racun ketika ia membuat seseorang untuk tidak melakukan apa-apa lagi, merasa semuanya sudah beres. Dalam hal itu, kewaspadaan menjadi sebuah jaring pengaman. Namun kewaspadaan ini pun bukan berarti tidak mampu menghargai apapun yang telah dicapai. Bukan juga berarti tidak mengambil inisiatif dan kesempatan-kesempatan lain selama mendekatkan pada tujuan yang lebih utama. Ia adalah sebuah tegangan kreatif antara rasa beryukur dan tetap berjaga. Dua hal yang juga dipesankan oleh Sang Mahaguru kehidupan.

-sepenggal catatan harian tanggal 3 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di...

HARI MINGGU MISI SEDUNIA KE-85

lembar teks perayaan ekaristi minggu kemarin itu terletak di depan saya. "Sebagaimana Bapa Mengutus Aku, Demikian Juga Aku Mengutus Kamu" Yah, ini bukan masalah religius atau tidak. Tapi kalimat ini seperti menyentil saya. saya mengasumsikan diri saya diutus untuk memimpin ketika saya melihat sebuah perubahan harus dilakukan. mungkin itu yang namanya panggilan. dari pengalaman 19 tahun hidup saya, panggilan bisa hadir lewat apa saja: emosi yang tidak stabil karena kurang tidur, jatuh cinta (atau sekedar jatuh suka), sebuah buku bacaan yang menggugah, kalimat yang sekedar terlintas pada momen yang tepat, maupun sekedar "ting!" yang terlintas dalam perjalanan pulang berjalan kaki dari sekolah. intinya, Yud, kalo kamu melihat ada sesuatu yang tidak beres di depanmu dan sepertinya tidak ada seorangpun yang benar-benar menanggapinya, mungkin kamu diutus!

Lugas

Menurut Anda itulah Kebenaran? Simpan basa-basi. Tak boleh kita terlena dalam onani kata berbunga-bunga Tiga hal penting selanjutnya: 1. Perjuangan 2. Perjuangan 3. Perjuangan "Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." -Lukas 12: 47-48