Langsung ke konten utama

Beryukur dan Berjaga

Dalam beberapa puluh hari terakhir, berbeda dari sebelumnya, saya agak lebih sering merasa puas, merasa mencapai sesuatu, entah karena telah menyelesaikan satu presentasi kecil, menyelesaikan sebuah pekerjaan yang tadinya bahkan tidak dimengerti, atau beberapa kemajuan lain dalam pengerjaan tugas. Sebuah ingatan akan pelajaran lain mengingatkan saya untuk juga mewaspadai kepuasan-kepuasan ini dengan cara mengamati pengalaman-pengalaman ini secara lebih seksama: apakah yang saya kerjakan ini semakin mendekatkan saya pada tugas-tugas yang lebih utama? Atau ini hanyalah sebuah pengalihan? 

Rasa puas diri kadang bisa menjadi racun ketika ia membuat seseorang untuk tidak melakukan apa-apa lagi, merasa semuanya sudah beres. Dalam hal itu, kewaspadaan menjadi sebuah jaring pengaman. Namun kewaspadaan ini pun bukan berarti tidak mampu menghargai apapun yang telah dicapai. Bukan juga berarti tidak mengambil inisiatif dan kesempatan-kesempatan lain selama mendekatkan pada tujuan yang lebih utama. Ia adalah sebuah tegangan kreatif antara rasa beryukur dan tetap berjaga. Dua hal yang juga dipesankan oleh Sang Mahaguru kehidupan.

-sepenggal catatan harian tanggal 3 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompleksitas Ikhtisar Rasa di Akhir Dekade

Minggu kedua bulan dua belas saat udara beku jadi selimut. Pancar surya menerobos bilik rehat menjamah benak yang mulai membeku menghangatkan karsa menata kata. Di tengah hari tak banyak kebisingan, ketika berhenti merekam dan mengolah berkas-berkas rasa datang dan pergi, tujuh purnama terbit di atas punggung seekor harimau Asia Seperti bermimpi saat membuka mata ini drama dan realita apa yang di hadapanku layaknya merengkuh kabut ada, terasa dekat, terlihat, namun tak tergenggam atau sebuah kerlip kota dari kejauhan terlihat indah tapi tidak jelas dan justru itu maka terlihat indah. Seperti mengumpulkan serpihan es yang menyelimuti dedaunan kering musim gugur setelah hujan pada musim dingin: menarik, rumit, dan dingin. Akankah komunitas imajiner ini hanya jadi imajinasi dengan banyak sensasi dan publikasi tanpa esensi? lain di mulut, lain di aksi? Akankah anak rahim Ibu Pertiwi selamanya mau mendekadensi diri? Lemah hati, lemah akal, lemah teknologi....

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di...

Tentang Pekerjaan

Ada 3 tipe hal yang dikerjakan manusia: Hal yang dia kerjakan dengan senang hati sepanjang waktu. Ini namanya hobi. Hal yang dia kerjakan dengan berat hati sepanjang waktu. Ini namanya menyiksa diri. Hal yang ada saatnya dia kerjakan dengan sukarela hati, ada saatnya dia kerjakan walaupun berat hati. Ini namanya panggilan.   -seorang pembimbing rohani, pertengahan tahun 2017