Langsung ke konten utama

Sebuah Senja

"......Di tengah kabar yang begitu dinamis ini, aku mengambil jenak untuk menghirup nafas lebih dalam. Sore tadi jalanan memang nihil suara anak-anak yang bermain. Lima toko yang kukunjungi hari ini kehabisan stok masker. Masker sekali pakaiku tinggal satu untuk besok. Di jalan kudapati bus umum yang kosong. Hanya seorang nenek berjaket merah muda menggunakan masker yang duduk di bangku kedua paling belakang yang juga paling dekat dengan jendela di sebelah kanan. Matanya menerawang gedung-gedung apartemen yang disinari cahaya sore hari. Entah apa yang ada di benaknya saat itu. Pandangan kuarahkan kembali ke arah kulangkahkan kakiku. Seorang pria tua yang masih berjalan tegap berjalan berlawanan arah denganku di trotoar yang sama. Kuanggukkan kepalaku dan ia membalas mengangguk. Hari ini hari yang ….. ah."

-sepenggal catatan harian sebulan lebih satu minggu yang lalu, awal tahta Sang Putra Mahkota di Negeri Han.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di...

Passion

Semakin bertambah kerut-kerut pada wajah, saya makin meyakini sebuah pepatah populer : "passion adalah kunci dari kesuksesan." Setidaknya ada 2 terjemahan kata passion . Yang pertama dan populer, merujuk pada kegairahan . Yang kedua, merujuk pada sebuah kisah sengsara .

Jenuh

pagi ini saya terbangun di ruang tamu markas. pukul 4 pagi. menuju ke meja di depan saya, membuka laptop. membuka sebuah contoh laporan analisis perancangan struktur pesawat terbang. tanpa rasa, tanpa semangat yang rasanya dulu pernah berkobar. saya lirik jam tangan. 5:15 hari ini saya mau ke gereja. misa senin pagi. tanpa rasa. sekarang saya sudah kembali di depan laptop saya. saya mencoba mengerti bahwa sebenarnya saya jenuh. jenuh, karena ide yang tidak juga kunjung terealisasikan. jenuh karena mimpi yang gelisah tak lagi datang. dan rasa jenuh itupun merembet kemana-mana. jenuh untuk berpikir. jenuh untuk bertindak lagi. bahkan jenuh untuk memimpin diri. namun, gengsi saya terlalu besar untuk terlihat jenuh dan akhirnya kalah dengan kejenuhan ini. setidaknya saya harus berpura-pura tidak jenuh sampai saya menemukan diri kembali bahwa sebenarnya saya benar-benar menyukainya.