Bumi terus berotasi saat matahari dan seisi tata surya menjelajah antariksa, mereka tak diam menunggu biar kita tak menua. Sebelum kali pertama kedua tangan saling terajut saat berjalan menyusur dan menyebrang Jalan Ciumbuleuit, sebelum kali pertama kata itu diucap di malam peringatan proklamasi Indonesia, sebelum hari libur tidak terasa seperti libur saat tak bertemu, dan sebelum masa "dunia milik berdua" itu berakhir, Sampai dua puluh empat beranjak menjadi dua puluh delapan dan dua puluh tiga telah beranjak menjadi dua puluh tujuh Waktu menyaru tak taat kronologi, hanya saat ini yang abadi. Seratus lima puluh kilometer tak buatku jadi bimbang, pun seperdelapan keliling bumi. Untuk yang betah di hati, rahmat ilahi, Selamat dua puluh delapan tahun disini! Gembira loka, lara loka, jana loka. Ucap terimakasihku untukmu dan semua yang berarti dalam hidupmu. Selamat memandang hidup yang selalu baru biarpun katanya tahunnya ulangan! Bandung 30 Mei 2020 Yang tak sabar menua bersamamu, seakan tak ada lagi nanti.
Minggu kedua bulan dua belas saat udara beku jadi selimut. Pancar surya menerobos bilik rehat menjamah benak yang mulai membeku menghangatkan karsa menata kata. Di tengah hari tak banyak kebisingan, ketika berhenti merekam dan mengolah berkas-berkas rasa datang dan pergi, tujuh purnama terbit di atas punggung seekor harimau Asia Seperti bermimpi saat membuka mata ini drama dan realita apa yang di hadapanku layaknya merengkuh kabut ada, terasa dekat, terlihat, namun tak tergenggam atau sebuah kerlip kota dari kejauhan terlihat indah tapi tidak jelas dan justru itu maka terlihat indah. Seperti mengumpulkan serpihan es yang menyelimuti dedaunan kering musim gugur setelah hujan pada musim dingin: menarik, rumit, dan dingin. Akankah komunitas imajiner ini hanya jadi imajinasi dengan banyak sensasi dan publikasi tanpa esensi? lain di mulut, lain di aksi? Akankah anak rahim Ibu Pertiwi selamanya mau mendekadensi diri? Lemah hati, lemah akal, lemah teknologi....
Komentar
Posting Komentar