Langsung ke konten utama

Postingan

Kritis = Tak Ragu (untuk jadi) Ragu Ragu (?)

Maaf bicaraku abstrak. Seperti kata Soekarno di muka sidang umum PBB: "Saya telah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdoa agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya." Saya mungkin tahu, bagaimana menyusun kata dengan runut dan memanipulasi orang yang mendengarkannya untuk menuruti keinginan saya. Tapi kemarin sepertinya lidah saya telah menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya saat itu: abstrak, ragu.  Dan seperti itulah biasanya seorang anak yang masih kecil mencari jawaban atas keingintahuan sekaligus keraguannya tersebut. Saya cuma bisa berharap menemukan jawabannya di masa pantang dan puasa ini. Kalau mereka bilang: Ragu-ragu kembali sekarang juga! Saya justru tak mau kembali dan terus mencari jawaban atas keraguan saya.

naskah yang tak sempurna (setahun yang lalu)

Kemajuan ekonomi yang bisa dinikmati rakyat (dan peran Institut Teknologi Bandung) Para Bapak--dan Ibu--bangsa kita mewariskan beberapa hal yang tampaknya tidak berubah dari generasi lalu ke generasi kita. maksudnya? Saat ini saya sedang berbicara cita-cita besar negara kita yang terlalu luhur untuk cepat berubah. (pembukaan UUD'45, ttg kegiatan ekonomi yang bisa dinikmati oleh rakyat banyak) setuju dengan cita2 tadi? tapi yang mana itu rakyat banyak? kita bisa lihat dari entitasnya. apa pentingnya UMKM bagi umum (yang sudah banyak dibahas di mana2, misalnya oleh depkopumkm) masalah mereka apa? yang biasa kita temui dan hasil wawancara langsung biasanya mengeluhkan masalah: modal, pemasaran tapi kalo dilihat secara lebih luas lagi, kita perlu pertanyakan juga, apakah nilai tambah yang diberikan sudah cukup optimal atau sebenarnya masih banyak potensi untuk memberikan nilai tambahnya. (masalah kesulitan alih teknologi (cari dari jurnl ekonomi rakyat)) masalah rak...

yang ingin saya lakukan selagi muda

-menemani ibu kost saya beraktivitas seharian -jadi pembantu gratis selama satu hari buat ibu kost saya -menghabiskan satu hari penuh di panti Jompo -keliling Indonesia dengan uang sebesar 1 juta rupiah -bikin pameran mainan buatan tangan se bandung raya dan mengetahui cara pembuatannya -belajar pacaran -membuat blog -mengikuti perlombaan pesawat tanpa awak internasional -menggelandang di bandung selama 3 hari tanpa uang serupiahpun -menginap di perpustakaan pusat sendirian selama semalam -berkemah di lantai atas gedung PAU " dan baru 2 diantaranya yang sudah saya lakukan "

Terompet Naga Merah

Jam tangan hitam saya menunjukkan pukul 17 lewat beberapa menit. Sepatu dinas harian hitam menemani langkah pertama saya menggelandang Bandung di malam terakhir tahun 2011. Walau baru kali ini saya menghabiskan malam akhir tahun dengan menggelandang, intuisi saya mengatakan seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali penjual terompet yang saya akan temui sepanjang jalan.  Sepertinya makin tua, saya makin mirip anak bayi. Saya melihat dunia seakan belum pernah saya lihat, semua seakan hal yang samasekali baru. Tidak ada yang wajar-wajar saja, ataupun "ya, memang biasanya udah gitu", atau "ya, emang tradisinya begitu". Biar tiap tahun yang namanya penjual terompet itu identik denan masa pergantian tahun, saya tidak lumrah menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa.    "Kenapa mereka selalu ada di masa pergantian tahun?" "mungkin karena orang-orang biasanya merayakan tahun baru dengan meniup terompet." "Kenapa Tahun baru dirayakan denga...

Gelitik Kata Canggihmu: Logika

Saya teringat jaman-jaman masa orientasi Keluarga Mahasiswa ITB 1 tahun terakhir ini: demam penggunaan kata-kata canggih macam logika, dialektika, retorika, dan lalalanya sepertinya mewarnai dinding-dinding kampus. Sampai saat ini pun, saya masih sering canggung dan terharu jika disapa menggunakan kata-kata canggih macam diatas tadi dalam diskusi-diskusi "cerdas". Dari sekian kata canggih diatas, hari ini saya hanya ingin sedikit mengupas satu: Logika Apa itu logika? Yah, kita mulai dengan selentingan-selentingan penggunaan kata ini di berbagai tutur kata yang acak saya temui hari ini (maafkan cara saya mengutip yang suka-suka saya): "Cinta ini kadang kadang tak ada logika" -Agnes Monica "Saya pernah terpaksa membayari mobil yang di depan saya karena dia tak pakai e-toll card, jadi biar cepat. Logika yang harus kita pakai adalah, pertama orang mau bayar kok sulit. Lalu kedua masuk jalan tol mau cepat kok malah jadi lama," tutur mantan Dirut PLN itu. ...

Pelepas Lelah

Menulis kata-kata ini pun malas rasanya. Mendayu, semilir angin segar yang tak tembus tembok-tembok sendiri. lemah pudar redup layu ketika hari depan yang pasti cuma di khayalmu sampai saat musim gugur kembali atau Desember yang lain lagi atau sampai puisi ini berganti semoga sepi ini akan berarti sampai saat itu aku tidak mau melarikan diri! . . . . . . . . titik.

Cuma Jadi Corong: Rajawali

Satu sangkar dari besi Rantai kasar pada hati Tidak merubah rajawali Menjadi burung nuri Rajawali Rajawali Satu luka perasaan Maki puji dan hinaan Tidak merubah sang jagoan Menjadi makhluk picisan Rajawali Rajawali Rajawali Rajawali Burung sakti diangkasa Lambang jiwa yang merdeka Pembela kaum yang papa Penggugah jiwa lara Rajawali Rajawali Rajawali Rajawali Jiwa anggun teman sepi Jiwa gagah pasti diri Sejati Bertahan pada godaan Prahara atau topan Keberanian Setia kepada budi Setia pada janji Kegagahan Menembus kabut malam Menguak cadar fajar Mendatangi matahari Memberi inspirasi Mendaki Mendaki Meninggi Meninggi Bersemi Bersemi Mendaki Mendaki