Langsung ke konten utama

Kompleksitas Ikhtisar Rasa di Akhir Dekade

Minggu kedua bulan dua belas
saat udara beku jadi selimut.
Pancar surya menerobos bilik rehat
menjamah benak yang mulai membeku
menghangatkan karsa
menata kata.

Di tengah hari tak banyak kebisingan,
ketika berhenti merekam dan mengolah berkas-berkas rasa
datang dan pergi, tujuh purnama terbit di atas punggung seekor harimau Asia

Seperti bermimpi saat membuka mata
ini drama dan realita
apa yang di hadapanku
layaknya merengkuh kabut
ada,
terasa dekat,
terlihat,
namun tak tergenggam

atau sebuah kerlip kota dari kejauhan
terlihat indah
tapi tidak jelas
dan justru itu maka terlihat indah.

Seperti mengumpulkan serpihan es yang menyelimuti dedaunan kering musim gugur setelah hujan pada musim dingin:
menarik,
rumit,
dan dingin.

Akankah komunitas imajiner ini hanya jadi imajinasi
dengan banyak sensasi dan publikasi tanpa esensi?
lain di mulut, lain di aksi?

Akankah anak rahim Ibu Pertiwi selamanya mau mendekadensi diri?
Lemah hati, lemah akal, lemah teknologi.

Beragama tapi tak menjadi berbudi.
Berpengetahuan tapi tak menjadi mengerti.
Berpengalaman tapi tak menjadi bijak.
Menjabat tapi tak menjadi terhormat.
Memimpin tapi tak punya determinasi.
Mendengar tapi tak menjadi memahami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di...

Tentang Pekerjaan

Ada 3 tipe hal yang dikerjakan manusia: Hal yang dia kerjakan dengan senang hati sepanjang waktu. Ini namanya hobi. Hal yang dia kerjakan dengan berat hati sepanjang waktu. Ini namanya menyiksa diri. Hal yang ada saatnya dia kerjakan dengan sukarela hati, ada saatnya dia kerjakan walaupun berat hati. Ini namanya panggilan.   -seorang pembimbing rohani, pertengahan tahun 2017