Langsung ke konten utama

Apakah Itu Kemiskinan? (1)

Kita memulainya dengan pertanyaan yang rasanya bertele-tele.

Terlepas dari keengganan kita untuk berpikir terlalu dalam, masalah definisi menjadi penting dalam sebuah diskusi. Dengan mendefinisikan, kita jadi tahu apa yang akan kita bicarakan selanjutnya. Mendefinisikan ibarat memagari Tempat Kejadian Perkara yang akan kita selidiki.

Oke kita mulai,

berikut hasil 15 menit pencarian definisi:

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
(dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan diakses pada 06/11/2011)

oke, baru itu yang bisa saya tampilkan untuk sementara, sisanya coba saya pikirkan sendiri--sebenarnya yang saya temukan jauh lebih banyak dari yang saya lampirkan tapi tulisan ini akan jadi seperti tulisan copy-paste saja kalo saya memasukkan semuanya.

Saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa hanya dari 15 menit waktu saya mencari di internet saja, saya bisa menemukan banyak sekali ragam definisi kemiskinan. Kemiskinan bisa dilihat dari bermacam-macam sudut pandang, mulai dari ekonomi, sosial, politik, dan kacamata lain.

Nah, pembaca bisa melihat? ternyata ada begitu banyak definisi yang bisa ditempelkan pada suatu kata? Bagaimana jadinya apabila kita memulai diskusi sebelum mendefinisikan kata tersebut, omongan kita mungkin tidak akan pernah nyambung. (oke cukup OOTnya)

Lalu pertanyaan selanjutnya: menurut saya sendiri, apa itu kemiskinan?

Saya akan mencoba menjawabnya:
Satu hal yang sama dalam sebagian besar definisi tentang kemiskinan adalah keadaan serba kekurangan. Jadi definisi Sang Detektif Kemiskinan untuk kata kemiskinan yang akan kita investigasi adalah keadaaan serba berkekurangan.

Kekurangan apa?

Terlalu luas ya?

ya, karena masalahnya ternyata tidak sekecil yang kita bayangkan.
(tapi dengan pertimbangan tertentu, selanjutnya kita akan mendefinisikan kemiskinan dalam hal apa yang akan kita bahas selanjutnya)

-bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di...

Kompleksitas Ikhtisar Rasa di Akhir Dekade

Minggu kedua bulan dua belas saat udara beku jadi selimut. Pancar surya menerobos bilik rehat menjamah benak yang mulai membeku menghangatkan karsa menata kata. Di tengah hari tak banyak kebisingan, ketika berhenti merekam dan mengolah berkas-berkas rasa datang dan pergi, tujuh purnama terbit di atas punggung seekor harimau Asia Seperti bermimpi saat membuka mata ini drama dan realita apa yang di hadapanku layaknya merengkuh kabut ada, terasa dekat, terlihat, namun tak tergenggam atau sebuah kerlip kota dari kejauhan terlihat indah tapi tidak jelas dan justru itu maka terlihat indah. Seperti mengumpulkan serpihan es yang menyelimuti dedaunan kering musim gugur setelah hujan pada musim dingin: menarik, rumit, dan dingin. Akankah komunitas imajiner ini hanya jadi imajinasi dengan banyak sensasi dan publikasi tanpa esensi? lain di mulut, lain di aksi? Akankah anak rahim Ibu Pertiwi selamanya mau mendekadensi diri? Lemah hati, lemah akal, lemah teknologi....

Investasi

Melambung pikiran akan masa depan yang tak pasti ataupun masa kini di luar jangkauan tindak,  habis waktu kesal mengomentari kebijak(sana)an yang mungkin tidak pernah ada,  merasa tak kemana-mana saat yang lain melanglangbuana,  terantuk pada akhir minggu malam pada hari ini,  pada tempat ini,  pada tugas yang terasa begitu kecil dan tak berarti  ...  tapi cuma aku yang  disini dan saat ini bisa mengerjakannya! bukan orang besar terhormat di atas sana,  orang muda pintar penuh prestasi yang itu,  ataupun orang tajir melintir di ujung lainnya.    "Tugasku, kehormatanku!" oceh serangkai kata terpajang pada sebuah tempat pernah bersarang.    Berikan yang mampu diberikan  meski itu bukan sebuah barang mewah ataupun sesuatu yang membuat orang berdecak kagum.  Kembangkan apa yang sudah diterima dan persembahkan persembahan yang tak berharga ini.  Hidup kadang b ukan soal besar atau kecil yang diterima. Berapa...