Langsung ke konten utama

Gelitik Kata Canggihmu: Analisis




Di tengah siang bolong, saya tergelitik untuk melakukan riset kecil terhadap satu kata yang sering saya pakai dan sering juga tidak saya sadari apa artinya.


Mungkin diantara pembaca ada yang sering menggunakan kata "analisis" sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Pernahkah pembaca tergelitik untuk bertanya:

"Analisis itu artinya apa sih?"

glek?

.

.

Hmm, analisis itu adalah berpikir...

eh, bukan.

analisis itu ini loh, eee

.

.

Dor!

.

Nah, saya sekedar ingin mencoba menjawab (bukan bermaksud menggurui), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001), analisis berarti

  1. penyelidikan thd suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb);
  2. penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan;
  3. penyelidikan kimia dng menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya dsb;
  4. penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya;
  5. pemecahan persoalan yg dimulai dng dugaan akan kebenarannya.

Seringkali kita juga menggunakan kata analisa. Analisa jelas berbeda dengan Analisis. EYD menyebutkan kata bakunya adalah Analisis.

Ditinjau dari asal katanya, analisis berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti proses memecah topik yang rumit menjadi bagian-bagian kecil untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang topik itu--dari gabungan kata ana- (inggris: up) + lysis (inggris: a loosening, breaking).

Eh, iya juga ya?

Kalau saya simpulkan dari pengertian-pengertian di atas dan pikir-pikir lagi, memang yang saya lakukan ketika menganalisis sesuatu adalah memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang bisa saya selesaikan, dengan kata lain, menyederhanakannya dan bukannya membuat masalah menjadi semakin keliatan rumit agar bisa diselesaikan.

Teknik analisis telah sejak lama diterapkan dalam studi matematika dan logika bahkan sebelum Aristoteles (384-322 SM). Analisis digunakan dalam berbagai persoalan-persoalan maha pelik yang biasa saya temui sehari-hari. Saya menggunakan kata ini ketika:

  • menebak kenapa seseorang tidak membalas pesan singkat saya
  • menebak berapa banyak perut yang bisa diisi oleh lembaran-lembaran ajaib di dompet teman saya yang hari ini berulang tahun hari ini ataupun
  • menebak apakah hari ini dosen saya masuk kelas atau tidak.

Nah, hebat kan?

Ternyata seringkali kita perlu sedikit merenungkan kembali bahasa-bahasa gaul yang keliatannya biasa bagi kita. Ibarat pisau, kata-kata itu jadi tumpul penggunaannya dan hanya berlalu tanpa menjadi arti, ketika bias terhadap maknanya.

Dan akhirnya saya jadi bertanya:

berapa banyak kata lagi yang bisa kita pertajam penggunaannya ketika kita tahu dan sadar maknanya?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tukang Ganti Baterai Jam Tangan

Untuk pertama kalinya saya mengganti baterai jam tangan saya. Satu bulan terakhir ini, jam tangan digital saya memang sudah mulai meredup tampilan penunjuk waktunya. “di ABC atau Simpang juga ada kok, Yud”, kata seorang kawan di sebuah obrolan kecil dua sore yang lalu ketika saya bertanya dimana tempat saya dapat mengganti baterai jam tangan saya . Hari Jumat, saya beranjak menuju Simpang Dago, membawa jam tangan hitam saya . Sambil mengamati deretan toko yang ada di sebelah kiri saya, saya mencoba menerka-nerka seperti apa toko yang menyediakan jasa ganti baterai jam tangan. Langkah saya terhenti di depan s ebuah etalase dengan lemari kaca berisi puluhan jam tangan . “Pak, disini bisa ganti baterai jam tangan?”, kata saya sambil melepas jam tangan saya dan menunjukkannya pada seorang bapak berumur empat puluh tahunan penjaga toko . Bapak itu melihat sekilas jam tangan saya lalu dengan tangan kirinya menunjuk seorang bapak lain di depan etalasenya. “dis

Investasi

Melambung pikiran akan masa depan yang tak pasti ataupun masa kini di luar jangkauan tindak,  habis waktu kesal mengomentari kebijak(sana)an yang mungkin tidak pernah ada,  merasa tak kemana-mana saat yang lain melanglangbuana,  terantuk pada akhir minggu malam pada hari ini,  pada tempat ini,  pada tugas yang terasa begitu kecil dan tak berarti  ...  tapi cuma aku yang  disini dan saat ini bisa mengerjakannya! bukan orang besar terhormat di atas sana,  orang muda pintar penuh prestasi yang itu,  ataupun orang tajir melintir di ujung lainnya.    "Tugasku, kehormatanku!" oceh serangkai kata terpajang pada sebuah tempat pernah bersarang.    Berikan yang mampu diberikan  meski itu bukan sebuah barang mewah ataupun sesuatu yang membuat orang berdecak kagum.  Kembangkan apa yang sudah diterima dan persembahkan persembahan yang tak berharga ini.  Hidup kadang b ukan soal besar atau kecil yang diterima. Berapa yang mampu diberikan kembali dari  yang telah diterima?

Resensi ++: Problem Solving 101 (bagaimana menjadi pemecah masalah)

Pagi ini saya sekedar ingin mengisi waktu kosong sebelum kuliah, bereksperimen dengan tulisan resensi (mungkin banyak yang sudah membuat resensi buku ini, namun buat saya: peduli setan lah) Dalam kehidupan berkuliah dan berorganisasi, sering saya temui masalah-masalah yang kelihatannya rumit, tidak bisa diselesaikan, dan banyak orang yang akhirnya hanya menghabiskan waktu hanya untuk khawatir dan mengeluhkan masalah tersebut. Nah, saat saya menemukan situasi seperti itu, saya teringat kepada satu buku yang sederhana tapi berguna. Buku Problem Solving 101 ini saya beli dengan harga +- 50 ribuan (kalo tidak salah, harganya 45 ribu). Awalnya saya rasa itu adalah harga yang terlalu mahal untuk buku yang setipis itu (hanya 115 lembar, ukurannya pun tidak jauh jauh dari selembar kertas A5), namun segalanya berubah setelah saya membuka halaman pertamanya. Dari beberapa lembar halaman awal, saya mengetahui bahwa Ken Watanabe menulis buku ini pada mulanya ditujukan untuk membantu kanak-kanak di